• Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Home»Opini»Anies Baswedan Gagal Mengantisipasi Banjir di Jakarta

Anies Baswedan Gagal Mengantisipasi Banjir di Jakarta

  • Kata Indonesia
  • - Thursday, 2 January 2020

Oleh: Indra Kurniawan

Banjir melanda Jakarta sejak Rabu (1/12/2020) telah mengakibatkan jatuhnya korban jiwa hingga kerugian material lainnya. Anies Baswedan selaku Gubernur DKI Jakarta gagal mengantisipasi banjir seiring datangnya musim hujan di Jakarta.

Cuaca tampaknya memang sedang tak berpihak kepada Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan. Hujan yang mengguyur ibukota hingga mengakibatkan banjir musiman ini menimbulkan sejumlah masalah. Kemacetan yang bertambah parah hingga keluhan masyarakat karena mandeknya aktivitas mereka.

Menurut Pengamat Tata Kota dari Universitas Trisakti Nirwono Joga, angkat bicara terkait bencana banjir yang tengah melanda sebagian besar wilayah DKI Jakarta pada 1 Januari tahun 2020 ini. Menurutnya, banjir yang menggenangi wilayah ibu kota turut membuktikan bahwa Pemprov DKI tidak siap dalam upaya mengantisipasi banjir saat musim hujan tiba.

Dia menilai parahnya banjir yang terjadi saat ini karena Anies menyetop program normalisasi di sepanjang sungai Ciliwung. Yakni, Anies menggantinya dengan proyek naturalisasi, tetapi tidak ada kesepakatan atau perbedaan konsep penanganan normalisasi dan naturalisasi antara Pemprov DKI dan juga pihak pemerintah pusat.

Selain itu, Nirwono turut mengkritik langkah Dinas Sumber Daya Air yang tidak melanjutkan pembebasan lahan secara optimal. Padahal, pertengahan tahun lalu sempat terjadi banjir di sejumlah wilayah. Ia menganggap proyek revitalisasi situ, danau, embung, dan waduk juga berjalan melambat. Padahal seharusnya segera dilakukan pengerukan dan diperdalam. Bahkan pembangunan waduk baru juga terhenti.

Nirwono menambahkan bahwa banjir besar juga terjadi karena buruknya sistem saluran air di Jakarta. Menurutnya, saluran air yang ada saat ini tidak cukup memadai untuk menampung banyak air. Pemprov DKI juga dinilai gagal menambah luas ruang terbuka hijau secara signifikan sehingga berdampak pada resapan air yang tak bertambah.

Sehingga dapat disimpulkan banjir ini penyebabnya ialah kombinasi antara hujan lokal, saluran air tidak berfungsi secara maksimal, dan minimnya daerah resapan air. Terlebih Banjir kiriman dari Puncak dan Bogor juga memperparah kondisi di wilayah Jakarta.

Sejalan dengan pendapat Pengamat Tata Kota dari Universitas Trisakti, PDIP menilai kejadian banjir yang terjadi di Jakarta seharusnya mampu diminimalisir dan dihindari jika Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan serius dalam upaya merealisasikan program penanggulangan banjir ini.

Tentunya hal ini menjadi bahan renungan kita bersama bahwa janji kampanye terkait banjir di Jakarta bukanlah janji yang mudah untuk dipenuhi, diperlukan pemimpin dengan aksi kongkrit yang nyata, bukan hanya sekadar solusi yang bersifat pendekatan kata-kata, bahwa janji politik juga harus disertai dengan solusi yang realistis serta terukur, imbuh Ketua Fraksi PDIP DKI Jakarta Gembong Warsono.

Gembong menyatakan, selama dua tahun Anies menjabat tidak ada eksekusi program penanggulangan banjir yang nyata Program normalisasi seolah hanya narasi fiksi tanpa eksekusi yang nyata. Padahal Gubernur DKI harus benar mengerti masalah banjir di Jakarta sehingga ada pembangunan infrastruktur yang lebih efektif dan efisien.

Pihak PDIP merasa bahwa program yang dilakukan selama ini hanya fokus kepada masalah estetika atau beautifikasi tanpa memikirkan fungsi dan juga manfaat. Fraksi sepenuhnya sadar bahwa hal ini terjadi karena tidak adanya kejelasan langkah-langkah preventif yang seharusnya menjadi prioritas utama Pemprov DKI Jakarta.

Dengan demikian dirinya menilai perlu adanya pemetaan masalah dan solusi yang lebih mumpuni lagi terkait banjir di Jakarta. Misalnya saja penerapan program Vertical Drainage yang sangat dibanggakan oleh Gubernur ternyata tidak bisa dijadikan suatu solusi.

Di lain pihak, guna memastikan kondisi jalan tetap aman untuk pengguna jalan, saat ini petugas Jasa Marga Regional wilayah Jabodetabek hingga Jabar tengah menyiagakan pompa-pompa di lokasi genangan untuk mempercepat penyedotan air akibat banjir.
Pihak Jasa Marga juga ditengarai memasang rambu-rambu, serta penempatan petugas sebelum lokasi genangan air. Hal ini bertujuan agar pengguna jalan dapat mengurangi kecepatan kendaraan serta dapat mengantisipasi genangan banjir.

Meski banjir yang dinilai sebagai langganan kota Jakarta sudah biasa dialami. Namun, seharusnya penanggulangannya tetap harus diprioritaskan. Mengingat kiprahnya sebagai orang nomor 1 di Jakarta sudah dua tahun berjalan. Tentunya dalam kurun waktu dua tahun ini bukankah waktu yang cukup guna menyiapkan segala antisipasi terkait banjir. Memang, pekerjaan Gubernur tak hanya mengurusi proyek ini, namun sesuai janji harusnya realisasinya harus dinomorsatukan. Sebab, Permasalahan ibu kota Jakarta berkenaan dengan banjir ini memang selalu menjadi topik utama. Mungkinkah memang sang Gubernur hanya pandai beretorika? Ah, Jakarta tak butuh rayuan atau kata-kata namun perwujudan nyata agar Jakarta menjadi lebih baik lagi.

Pemerintah Pastikan Semua Anak Bisa Sekolah Gratis Sampai Sarjana

September 29, 2026

Sekolah Rakyat dan Sekolah Garuda Menyatukan Akses dan Mutu Pendidikan

September 29, 2026

Pemerintah Pastikan Semua Anak Bisa Sekolah Gratis Sampai Sarjana

By Kata IndonesiaSeptember 29, 20260

Pemerintah Pastikan Semua Anak Bisa Sekolah Gratis Sampai Sarjana Oleh: Miftah Hizyan Agenda pendidikan nasional…

Sekolah Rakyat dan Sekolah Garuda Menyatukan Akses dan Mutu Pendidikan

By Kata IndonesiaSeptember 29, 20260

Sekolah Rakyat dan Sekolah Garuda Menyatukan Akses dan Mutu Pendidikan Oleh: Rizky Adi Perman Perluasan…

Pemerintah Perluas Akses Pendidikan Papua melalui Sekolah Rakyat Terintegrasi

By Kata IndonesiaSeptember 29, 20260

Pemerintah Perluas Akses Pendidikan Papua melalui Sekolah Rakyat Terintegrasi Oleh : Yohanes Wandikbo Pendidikan merupakan…

Magang Nasional: Investasi Tenaga Kerja Muda 

By Kata IndonesiaSeptember 29, 20260

Magang Nasional: Investasi Tenaga Kerja Muda  Oleh: Yusuf Rinaldi Program Magang Nasional yang diperluas pemerintah menjadi 150 ribu peserta pada 2026 menunjukkan upaya memperkuat transisi lulusan perguruan tinggi menuju dunia kerja. Program ini tidak hanya memberikan pengalaman kerja bagi lulusan baru, tetapi juga diarahkan untuk meningkatkan keterampilan, membangun jejaring profesional, dan memperbesar peluang masuk ke pasar kerja formal di tengah persaingan memperoleh pekerjaan yang semakin ketat. Sejak 2025, pemerintah membuka Program Magang Nasional dengan target 100 ribu peserta. Pada 2026, kuotanya diperluas menjadi 150 ribu peserta. Program berlangsung selama enam bulan dengan fasilitas pelatihan, pendampingan mentor, sertifikat, jejaring profesional, serta uang saku yang ditanggung pemerintah. Besaran uang saku mengacu pada Upah Minimum Kabupaten/Kota di lokasi pemagangan dan dibayarkan setiap bulan berdasarkan jumlah hari yang diperhitungkan. Menteri Ketenagakerjaan Yassierli mengatakan perluasan program tersebut dilakukan secara bertahap dan tetap disertai evaluasi terhadap pelaksanaan setiap angkatan. Pada batch pertama terdapat 46.160 peserta, sedangkan batch kedua menetapkan 40.962 peserta. Pemerintah kemudian menyiapkan batch ketiga dengan sekitar 62 ribu peserta untuk memenuhi target 150 ribu peserta pada 2026. Pendaftaran penyelenggara disiapkan sejak September, seleksi peserta pada Oktober, dan pelaksanaan batch ketiga ditargetkan dimulai pada November. Evaluasi tersebut diarahkan untuk memastikan pemagangan benar-benar memberikan kesempatan kepada peserta meningkatkan kompetensi, memperoleh pengalaman kerja, membangun portofolio, serta memperluas jejaring. Untuk batch ketiga, pemerintah juga mengubah skema penempatan dengan menempatkan seluruh peserta di perusahaan, tanpa kementerian dan lembaga pemerintah. Dari perspektif ekonomi, pemberian uang saku selama enam bulan memberikan dukungan bagi lulusan baru yang berada dalam masa transisi dari pendidikan menuju pekerjaan. Selain memperoleh pengalaman kerja, peserta mendapatkan tunjangan yang disesuaikan dengan upah minimum daerah. Pemerintah juga memberikan fasilitas Pajak Penghasilan Pasal 21 ditanggung pemerintah melalui Peraturan Menteri Keuangan Nomor 6 Tahun 2026 yang berlaku hingga Desember 2026. Dampak terhadap penyerapan tenaga kerja menjadi indikator penting dalam melihat keberlanjutan program. Direktur Jenderal Pembinaan Pelatihan Vokasi dan Produktivitas Kemnaker Darmawansyah menyampaikan bahwa sekitar 30 ribu dari 60 ribu alumni Magang Nasional 2025 yang menjalani pemagangan di industri telah bekerja tiga bulan setelah menyelesaikan program. Tingkat penyerapan tersebut meningkat dari sekitar 30 persen ketika peserta baru menyelesaikan masa pemagangan.…

  • Redaksi
  • Peraturan Media Siber
  • Kontak Redaksi

All Rights Reserved © 2025

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.