Indonesia di 74 Tahun

Oleh : Nurul Yaumilda Hasibuan

Kemerdekaan sejatinya sudah kita raih sejak 74 tahun lalu. Indonesia diakui sebagai negara berdaulat pun hampir sama dengan usia kemerdekaannya. Namun semangat kemerdekaan yang dilakukan para pahlawan dan pendahulu kita apakah masih sama? Semakin meningkat? Atau malah semakin menurun? Saya kira kita semua bisa menjawabnya dalam pikiran kita masing-masing.

Belakanganini kemerdekaan hanya diperingati untuk berbagai perlombaan dan menghias daerah. Apakah diri kita sendiri sudah terhias dengan semarak dan semangat kemerdekaan? Masih banyak masyarakat yang belum sepenuhnya memaknai kemerdekaan termasuk saya sendiri. Tidak perlu untuk masalah yang menyangkut negara, masalah diri sendiri pun belum bisa kita tangani. Khususnya kaum Milenial dan saya sendiri rasa malas masih menghinggapi, kurangnya kepekaan dan rasa peduli terhadap lingkungan sosialnya. Seharusnya kemerdekaan bisa dimaknai dan diimplementasikan dengan menjadi agen perubahan yang menjunjung tinggi persatuan, berkarya dan berinovasi untuk menjadikan Indonesia lebih baik lagi. Tugas kita memperjuangkan kemerdekaan hanya mengembangkan dan menjadikan Indonesia lebih baik lagi. Kita tidak perlu angkat senjata dan pertumpahan darah untuk merebut Indonesia, Indonesia sudah di tangan kita. Yang perlu kita perangi adalah pengaruh-pengaruh negatif dan sikap-sikap yang tidak menunjukan rasa cinta pada pahlawan dan tanah air kita.
Indonesia sudah menua dan sudah menjadi orangtua bagi semua provinsi di negara kita ini. Dimana setiap provinsi memiliki penduduk dengan berbagai suku, budaya, dan kepribadian yang berbeda.

Advertisement

Keberagamandan perbedaan biasanya sensitif dengan perpecahan. Kemajuan teknologi yang kian pesat pun menjadi faktor penting dalam menghambat persatuan suatu negara. Media sosial adalah salah satu bentuk kemajuan teknologi. Jika kita mengirim dan membagikan suatu kiriman ke media sosial dampaknya cukup banyak. Bahkan dampak negatif kadang lebih menonjol daripada dampak positif walaupun yang kita kirim itu baik-baik saja dan tidak berdampak apa-apa menurut kita. Informasi dan kiriman kita bisa saja disalahgunakan oleh pihak-pihak yang tak bertanggungjawab dan berniat mengadu domba. Berita-berita yang disebarluaskan ini dan belum diketahui kebenarannya bisa saja langsung diterima oleh masyarakat awam. Inilah yang dinamakan hoax.
Akhir-akhir ini hoax kian marak di Indonesia. Apalagi hoax tentang agama, masalah keyakinan sangatlah sensitif untuk dijadikan hoax dan dampaknya bahkan bisa dengan cepat mengundang perpecahan. Toleransi beragama di Indonesia saat ini pun berada di masa yang genting. Baru-baru ini Ustad Abdul Somad dilaporkan ke Bareskrim Polri oleh Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia karena dinilai menistakan agama lain dalam ceramahnya. Padahal ceramah yang beliau sampaikan di dalam ruang ibadah umat Muslim dan memang di khususkan untuk umat Muslim saja serta bukan bentuk penghinaan. Lalu, mengapa umat agama lain merasa ternistakan? Inilah hoax tadi. Ada oknum yang sengaja menyebar video tersebut sehingga di saksikan publik dan menuai kontroversi. Hingga menimbulkan perpecahan antar umat beragama.

Hal seperti ini haruslah kita lawan. Kita harus kritis menanggapi suatu berita. Kita tidak bisa menelan suatu berita bulat-bulat tanpa mengetahui sumber dan kebenarannya. Cerdiklah dalam menerima suatu informasi dan jangan langsung membagikan berita tersebut. Karena itu kan mempercepat penyebaran berita tersebut. Sebagai generasi penerus bangsa ini, lebih baik kita memberi aspirasi dan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat untuk menyukseskan pembangunan Indonesia.

Seperti yang sudah kita ketahui selama 5 tahun kepemimpinannya, Presiden Joko Widodo dikenal sebagai Bapak Infrastruktur. Dan beliau mendapat kesempatan untuk memimpin Indonesia satu periode lagi yaitu untuk 5 tahun ke depan. Banyak yang sudah direncanakan beliau, seperti memajukan beberapa wisata di Indonesia akan diprioritaskan pada 2020 untuk dijadikan wisata dunia seperti Danau Toba, Labuan Bajo, Candi Borobudur dan Mandalika. Satu lagi rencana pemindahan ibu kota ke Kalimantan yang menuai banyak pro dan kontra saat ini. Di tengah Indonesia yang memiliki banyak pinjaman pada negara lain, seperti tidak memungkinkan untuk memindahkan ibu kota karena memerlukan dana yang tidak sedikit. Sementara di sisi lain, banyak hal-hal yang mendesak dan memerlukan perhatian lebih untuk dibenahi. Kita lihat kepemimpinan beliau 5 tahun ke depan. Semoga bisa menepati janji-janjinya. Agar senantiasa mendapat pujian dan didoakan oleh rakyat, bukan sebaliknya. Sepertinya untuk mengurusi masalah untuk negara ini Presiden sudah memilih menteri-menteri yang kompeten dibidangnya, dan para wakil rakyat yang semoga bisa amanah. Kita sebagai rakyat hanya bisa menyampaikan aspirasi semua ada di tangan mereka. Setidaknya untuk memaknai kemerdekaan ini pimpinlah diri sendiri menjadi lebih baik sehingga bisa bermanfaat bagi orang banyak, bangsa dan negara. “Sebaik-baik manusia Ialah yang paling bermanfaat untuk orang lain”.

Info Lomba Terbaru