MENGGAGAS WISATA TOLERANSI DI BAGANSIAPIAPI

 

Oleh : Bastian Zulyeno, PhD.
Staf Pengajar FIB-UI

Tempat wisata tidak pernah membedakan suku, agama, dan bangsa. Upaya paling sistematis untuk menangani secara teoritis relasi problematika antara selera budaya dan struktur sosial adalah riset, dan tulisan sosiolog Perancis Pierre Bourdieu menghidupkan dan mengolah kembali konsep habitus untuk menunjukkan suatu sistem predisposisi dan aktivitas budaya yang dipelajari dalam masyarakat yang membedakan orang-orang berdasar hidupnya (Lull, 1998: 78-81).
“Jika kalian hendak belajar toleransi dan melihat bagaimana berbagai suku bangsa dapat hidup berdampingan secara damai tanpa ada pergesekan datanglah ke Bagansiapiapi”.

Advertisement

Demikian cuplikan yang disampaikan Ustadz kondang Abdul Shomad dalam ceramahnya yang disebarluaskan melalaui media Youtube.
Kota Bagan Siapiapi berada di muara sungai Rokan, berdekatan dengan Selat Malaka adalah ibukota dari Kabupaten Rokan Hilir, Riau. Posisinya yang strategis di pantai Timur Sumatra menjadikan Bagansiaapi pernah menjadi pelabuhan besar dunia dan menjadi kota nelayan dengan penghasil ikan terbesar ke-2 di dunia setelah Norwegia. Bahkan kota ini pernah mendapat julukan Hong Kong van Andalas.

Adanya kebijakan transmigrasi yang diterapkan kolonial Belanda membuka kesempatan orang dari pulau Jawa untuk mukim juga di sana. Bagansiapiapi pada akhirnya menjelma menjadi wilayah pemukiman multi etnik dengan mayoritas penduduk Tionghoa memainkan peranan penting di sana. Selepas merdeka pertambahan penduduk makin besar. Komposisi penduduk mulai berubah dengan mayoritas Tionghoa dengan penduduk pribumi dari berbagai etnik. Meskipun demikian Bagansiapiapi selanjutnya disingkat Bagan tetap menjadi kota multietnik.

Kini berdasarkan data Badan Pusat Statistik Kabupaten Rokan Hilir dalam buku Rokan Hilir Dalam Angka 2018, jumlah penduduk Kecamatan Bangko per 30 Juni 2017 yang sebagian besar tinggal di kota Bagansiapiapi adalah 83.679 orang. Di kecamatan dengan luas 475,26 Km2 ini memiliki 45 Mesjid, 25 Klenteng dan lima buah gereja.. Mayoritas suku yang tinggal di Bagan adalah suku Melayu dan Tionghoa. Jika melihat sejarah perjalanan penduduk Bagan sampai sekarang, hal yang paling menonjol dari kehidupan sosial di sana adalah kesadaran penduduk untuk hidup rukun damai dan sejahtera, maka dalam sejarahnya itu pula bukan tidak pernah terjadi konflik etnik.

Tercatat wilayah ini pernah tiga kali terjadi konflik antar etnik. Meskipun demikian karena pada dasarnya penduduk Bagan sejak awal dibentuk dengan memelihara toleransi maka kerusuhan tersebut tidak sampai meluas dan dapat diselesaikan dengan cepat. Sejarah kelam ini membuat pemerintah dan penduduk Bagan berperan aktif dalam menjaga dan melestarikan kerukunan yang ada di Bagan, karena jika tidak, dendam terselubung dan hidup saling curiga akan terus menghantui kehidupan sosial di sana. Orang-orang keturunan Tionghoa di Bagansiapiapi, berdasarkan apa yang disampaikan oleh leluhur mereka, meyakini kalau kota teserbut adalah kota kelahiran sekaligus kampung halaman mereka, dan merasa berhak atas keikutsertaan dalam pembangunannya.

Sampai sekarang kesadaran penduduk Bagan untuk memelihara kerukunan dan toleransi boleh dikatakan sudah menjadi habitus perilaku penduduk yang saling menghormati, menyadari adanya perbedaan dan keinginan kuat untuk hidup rukun. Sesungguhnya hal ini dapat dijadikan contoh kasus semangat toleransi yang sudah mendarah daging. Oleh karena itu, kehidupan penduduk Bagan potensial menjadi bahan kajian dan role model bagaimana toleransi dipelihara sebaik-baiknya oleh penduduk. Tradisi tahunan bakar tongkang contohnya tradisi ini erat kaitannya dengan sejarah kota Bagansiapiapi, khususnya awal mula kedatangan orang-orang keturunan Tionghoa ke muara Rokan. Tradisi khas etnik Tionghoa Bagan Siapiapi yang tidak dikenal oleh warga Tionghoa non-Bagansiapiapi atau warga masyarakat dari dari etnik lain. (Arfan, 2016: 9).

Seluruh proses komunikasi pada akhirnya menggantungkan keberhasilan pada tingkat ketercapaian tujuan komunikasi, yakni sejauh mana para partisipan memberikan makna yang sama atas pesan yang dipertukarkan, itulah yang sering dikatakan sebagai komunikasi antar budaya yang efektif. (Liliweri, 2007). Dalam ritual Bakar Tongkang terjadi komunikasi antar budaya yang efektif. Terlihat dari keikutsertaan etnis-etnis lain selain Tionghoa yang berpartisipasi untuk kemeriahan acara tersebut. Puluhan tahun ritual ini dilakukan sampai sekarang, membuktikan betapa komunikasi atas pesan yang dipertukarkan sampai kepada seluruh partisipan.

Pemukiman di Bagansiapapi awalnya diisi oleh orang-orang keturunan Tionghoa, setelah kedatangan orang-orang Melayu berdampak terhadap kebudayaan yang sudah berkembang. Melayu yang identik dengan Islam akhirnya ikut mewarnai kebudayaan setempat. Toleransi tidak hanya terlihat pada kehidupan sehari-hari tetapi juga tampak pada arsitektur hunian penduduk Bagansiapiapi. Ada perpaduan mencolok antara budaya Cina dan Melayu. Paling tidak dalam sebuah rumah hunian terlihat tata ruangnya memiliki courtyard di bagian tengah (tradisional Cina) dan teras di bagian muka rumah tipikal rumah tradisional Melayu.

Masalah toleransi dalam hubungannya dengan keberadaan masyarakat Tionghoa seringkali ditempatkan sebagai masalah serius. Berbagai usaha dilakukan pemerintahan untuk menegakkan kehidupan yang penuh toleransi dalam masyarakat multi-etnik, cara lain yang dapat dilakukan untuk menanamkan nilai-nilai toleransi dapat dilakukan dengan mengambil model satu daerah dalam populasi mayarakat multi-etnik dapat hidup rukun dan saling menghormati. Sesungguhnya Bagansiapiapi, kabupaten Rokan hilir dapat dijadikan role model oleh negara
Wisata toleransi adalah konsep yang coba ditawarkan sebagai usaha untuk menjadikan Bagansiapi-api sebagai model kehidupan masyarakat multi-etnik yang penuh toleransi. Artinya kota tersebut dapat digunakan sebagai destinasi wisata bagi mereka yang ingin mengetahui bagaimana kehidupan multi-etnik di sana hidup berdampingan dengan rukun. Tanpa disadari reaksi interaksi antar etnik yang telah terjadi puluhan tahun melahirkan sebuah sebuah konsep kerukunan “ala Bagan” di mana etnik dominan Melayu, Cina, Jawa, Minang dan Batak berbaur.

 

Untuk mewujudkan model destinasi wisata toleransi, diperlukan langkah-langkah strategis diantaranya: (1) Penyebarluasan potret kehidupan masyarakat Bagan siapiapi melalui berbagai media (2) Tawaran ke institusi atau lembaga yang punya kewenangan mengambil keputusan kebijakan publik untuk melakukan studi banding ke Bagansiapiapi (3) Pemda setempat perlu mempertimbangkan ikon potensi wisata dan ekonomi kreatif dengan mengusung Bagansiapiapi sebagai kota wisata toleransi (4) Menghimpun dan mempublikasikan cerita rakyat Bagan siapiapi berlatar kerukunan antar-etnik dalam bentuk buku, sinetron, novel dll sebagaimana yang telah dilakukan oleh sastrawan Mahyudin Sudarno lewat karya sastranya (5) menetapkan moment dimana warga penduduk Bagan dapat mengekspresikan dirinya melalui festival kesenian multi-etnik.

Info Lomba Terbaru