Mewaspadai Fenomena Teror Lone Wolf di Indonesia

Oleh : Zakaria

Fenomena lone wolf adalah keadaan ketika terorisme bergerak sendiri. Misalnya ketika seseorang tiba-tiba jadi anggota kaum radikal, padahal keluarganya tidak terlibat sama sekali. Ia jadi lone wolf dan dengan sendirian memasuki kelompok tersebut atas kemauannya sendiri. Kita wajib waspada agar anak-anak tidak jadi anggota kaum radikal.

Kepala pusat riset kajian terorisme Benny Mamoto menyatakan bahwa untuk mencegah fenomenal lone wolf, maka garda terdepan adalah keluarga. Jika dari kecil seseorang sudah diajari tentang bahaya terorisme dan dididik untuk jadi nasionalis, maka tidak akan mudah terbujuk oleh kaum radikal. Karena tahu beda antara radikalisme dengan kelompok ormas biasa.

Advertisement

Baca juga: Viral, Begini Bentuk Dukungan Alumni dan Simpatisan Demi Memutus Rantai Covid 19 di Gontor

Benny melanjutkan bahwa edukasi di keluarga sangat penting, karena adalah lingkungan paling awal manusia. Maka anak ketika dewasa akan tahu mana yang benar dan mana yang salah. Lagipula, seorang anak tentu akan mempercayai omongan ibunya. Jadi sang ibu juga harus mengajarkan rasa kebangsaan dan melarang anak untuk mengikuti ajaran radikalisme.

Selain di keluarga, maka Benny menyatakan bahwa edukasi di lingkungan sekolah dan sipil sangat perlu dalam mengurangi fenomena lone wolf di Indonesia. Jadi ketika sudah tersosialisasi, masyarakat akan paham mana saja yang termasuk kelompok teroris. Ketika ada kelompok yang mencurigakan, mereka jadi tanggap dan menelepon pihak berwajib agar menyelidikinya.

Untuk melakukan edukasi tentang anti radikalisme di sekolah, maka para guru bisa mengajarkan murid untuk memiliki rasa nasionalisme. Dengan mengajak ke museum atau taman makam pahlawan. Murid diceritakan tentang sejarah perjuangan pahlawan. Sehingga tahu bahwa kemerdekaan adalah hasil dari banyak pihak, bukan satu agama tertentu.

Di sekolah juga diajarkan tentang perlunya memiliki rasa toleransi kepada sesama, baik ke teman yang seagama maupun yang beragama lain. Indonesia juga terdiri dari banyak suku. Jadi murid diajarkan untuk saling menghormati orang lain yang bersuku berbeda dan memiliki keyakinan yang berbeda. Mereka tidak akan jadi orang yang intoleran.

Orang tua juga wajib waspada terhadap kelakuan anak di rumah. Jangan sampai mereka ternyata terpapar radikalisme dari media sosial dan bercita-cita jihad ke luar negeri. Awasi gadget anak dan lihat history-nya, untuk tahu apa saja yang dibaca di internet. Ajarkan juga ke anak bahwa ajaran radikalisme itu sebenarnya menyesatkan karena mengumbar kekerasan.

Para guru juga harus memperhatikan murid-muridnya. Jika ada yang menolak untuk menghormati bendera merah putih, maka wajib ditanya baik-baik alasannya. Karena kaum radikal sudah mendoktrin anggotanya untuk tidak setia pada negara yang mereka anggap zalim. Jadi semua dilarang untuk memberi hormat bendera dan mengikuti upacara.

Jika ada murid yang sudah terlanjur, maka wajib dilihat latar belakangnya. Apakah orang tuanya tahu bahwa ia sudah masuk kelompok radikal? Jika ia masuk atas kesadaran sendiri, maka wajib disembuhkan dengan terapi. Alam bawah sadarnya dipengaruhi lagi bahwa memiliki rasa kebangsaan itu perlu dan kaum radikal itu salah.

Proses ini memang butuh waktu agak lama, namun harus dilakukan. Agar tidak ada lagi generasi muda yang terkena fenomena lone wolf. Mungkin mereka pada awalnya tertarik dengan ajakan jihad karena berasa jadi pahlawan. Atau mau-mau saja diajak membenci pemerintah karena melihat banyak ketimpangan ekonomi di sekitar.

Generasi muda yang kena fenomena lone wolf harus diperhatikan oleh guru, keluarga, dan lingkungan sekitarnya. Karena jika sudah terpapar radikalisme, masa depannya akan rusak. Orang tua juga wajib mengawasi anak-anaknya dan mengecek kegiatan mereka di dunia nyata maupun maya, agar tidak terlanjur tercebur dalam kelompok radikalisme.

Penulis adalah warganet tinggal di Bogor

Info Lomba Terbaru