Papua dan Ikrar Persatuan Indonesia

Oleh : Maya Andita

Sebuah berita tidak menyenangkan datang dari Surabaya beberapa hari yang lalu. Masalahnya (diduga) soal rasis. Lagi – lagi rasis. Sejak itu pula hastag #sayabukanmonyet menjadi trending di sosial media. Ada banyak versi yang saya lihat dari kisruh yang terjadi saat ini.
Menurut berita yang di muat oleh web CNN Indonesia pada Rabu (21/08) diduga kericuhan dipicu oleh kedatangan Tri Susanti selaku korlap aksi yang juga merupakan Caleg DPRD partai Gerindra ke asrama mahasiswa Papua di Surabaya. Untuk detail pastinya, masih sangat abu.
Menurut Tri Susanti seperti yang di beritakan, ia berdalih kedatangannya kesana hanya untuk membela bendera merah putih yang telah di rusak dan di buang. Ia juga menangkis tuduhan adanya pengepungan asrama. Tapi siapa yang tahu? Karena berita yang beredar kencang adalah isu rasis dan pengepungan asrama. Dari sini saja kita sebagai masyarakat awam sudah di hadapkan pada sebuah berita yang sangat berseberangan dan belum adanya penelitian lebih lanjut tentang hal tersebut .

Tapi apa yang malah terjadi? Kisruh di Surabaya tersebut malah berbuntut panjang, menyulut rusuh di beberapa daerah seperti Monokwari, Jayapura, Fak-fak dan daerah lainnya di tanah air. Bahkan, sebagian aksi ada yang mulai menyinggung perjanjian New York 1962 antara Indonesia, Belanda dan juga rakyat Papua. Luka – luka lama pun pun mulai kembali dikorek – korek.

Advertisement

Kejadian tersebut dapat di ibaratkan sebagai bola saju yang makin membesar dan siap menerjang apa saja, bukan hanya keamanan di daerah Papua tapi juga persatuan Indonesia secara utuh.
Isu tentang Papua, memang merupakan isu yang sangat sensitif. Bukan hanya pada saat ini tapi sudah sejak awal kemerdekaan pun sudah sangat sensitif.

Alangkah lebih baiknya, jika kita lebih berhati-hati menanggapinya dan bukan merupakan dugaan yang kosong pula, jika mungkin ada saja oknum – oknum yang ikut ambil bagian dari kerusuhan ini.
Bisa saja salah satu caranya adalah dengan menyebar berita hoax untuk menyulut emosi berbagai pihak. Apalagi isu yang beredar ini merupakan isu yang sangat mampu menyulut emosi kedua belah pihak, yakni isu rasis dan pengrusakan bendera merah putih yang keduanya pun masih belum jelas yang mana berita yang asli. Jangan sampai hal yang memang dasarnya sudah runyam menjadi lebih runyam lagi karena berita hoax.

Oleh sebab itulah, untuk menjaga stabilitas keamanan nasional kita harus harus pandai dalam memilah – milih berita yang akan kita terima. Kerja sama antara pemerintah dan masyarakat pun di butuhkan agar tetap terjaganya persatuan bangsa dan pembangunan dapat berjalan dengan lancar dimanapun itu, termasuk di Papua.

Hal yang harus dilakukan dalam menganggapi berita ini adalah : Tenang, mulailah membaca lebih banyak referensi tentang isu terkait, agar dapat memperbanyak berita dari sudut pandang yang berbeda-beda.

Pilih dan lihat media mana yang memberitakan, apakah media tersebut kredible atau tidak. Bila perlu, dapat pula untuk diadakannya verifikasi media oleh lembaga terkait. Kemudian, telitilah lebih lanjut tentang berita yang kita terima. Jangan sampai kita menelan mentah – mentah apalagi langsung membagikannya ke orang lain.

Sejarah telah mengingatkan kita berkali-kali betapa sulitnya para pendahulu kita memperjuangkan kemerdekaan dan kedaulatan Indonesia. Betapa magis nya ikrar tentang persatuan Indonesia. Jangan sampai trauma kita akan Timor Timur terulang kembali. Jangan sampai Indonesia kehilangan bagian tubuhnya kembali. Mari kita bantu pemerintah dan aparat terkait untuk sama-sama mempertahankan stabilitas nasional dengan bijak menanggapi berita yang beredar.

Info Lomba Terbaru